Selama bertahun-tahun, industri perfilman Hollywood telah menciptakanbanyak sekali film yang menguras airmata. Namun menurut komunitasilmiah, ada satu film Yang lebih sedih daripada film-film lainnya.

Ketika Anda memikirkan apa film paling sedih sepanjang sejarah,pilihan Anda pasti muncul dikarenakan oleh beberapa kemungkinan tergantung padafaktor-faktor yang mendasarinya seperti jenis kelamin anda, usiaanda dan tentu saja, yang film yang telah Anda lihat. Bagi paramovie-goer di generasi reporter Anda, Bambi tentu berada hampirmendekati posisi puncak. Akan tetapi, menurut komunitas ilmiah, filmyang paling sedih di dunia adalah remake dari film besutan sutradara FrancoZeffirelli, The Champ ditahun 1979.

Sebuah kisah mengenai seorang petinju tua yang mencoba untuk kembalike dunia tinju. The Champ tidak terlalu dikenal sebagai sebuah filmyang klasik. Rotten Tomatoes hanya memberikan film tersebut 38 persendari penilaian secara keseluruhan. Namun klimaks dari film ini yangmana menunjukkan Rick Schroder yang berumur sembilan tahun menangisikematian ayahnya yang dijuluki “The Champ,” (diperankan oleh JonVoight) – telah sejak lama digunakan oleh para ilmuwan dalam studimengenai kesedihan.

Menurut Richard Chin  dari  Smithsonian Magazine, The Champ pertamakali digunakan untuk tujuan ilmiah oleh peneliti psikologi RobertLevenson dan James Bruto di University of California, Berkley, padatahun 1988. Pasangan ini berusaha untuk menemukan adegan film yanghanya menimbulkan emosi pada satu waktu. Setelah meninjau ratusanpendebat, dan menjalankan tes pada lebih dari 500 sarjana sukarelawan,Levenson dan Gross menemukan bahwa adegan dari The Champmenimbulkan kesedihan secara eksklusif lebih sering daripada filmlainnya yang mereka putar. (film Bambi menduduki posisi kedua .)

Sejak Levenson dan Gross menerbitkan temuan mereka pada tahun 1995,klip berdurasi tiga menit dari The Champ telah dikutip di lebih dari300 artikel ilmiah. Dan telah digunakan oleh para ilmuwan lain sebagaisebuah cara yang manusiawi untuk membangkitkan rasa kesedihan pada subjektes, untuk berbagai penelitian, termasuk hal-hal seperti pengujiankemampuan komputer untuk mendeteksi emosi manusia, apakah perokok yangdepresi merokok lebih sering saat mereka sedih? (ya), atau apakahlaki-laki merasa bahwa wanita lebih menarik secara seksual saat wanitasedang bersedih? (ternyata tidak).

“Saya merasa hal itu sangat sedih. Saya merasa kebanyakan orang juga,”kata Jared Minkel dari Duke University, yang menguji respon emosionaldari individu-individu yang kurang tidur. “The Champ tampaknya sangatefektif dalam memunculkan keadaan perasaan sedih yang cukup murni dankognitif yang terkait dan juga perubahan  perilaku.”

sumber : digitaltrends.com via Andrew Couts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *